Sabtu, 30 April 2011

How CAN they SURVIVE??

Setengah berbisik tanpa sadar kalimat itu terucap ketika melihat kondektur dan pengamen di bus metromini P67 jurusan Blok M-Senen. Bus tua dengan warna cat orange biru yang sudah kusam, sekusam wajah lelah kondektur yang berdiri di pinggir pintu depan bus dan wajah letih pengamen di sudut pintu belakangnya. Ternyata kalimatku tadi terdengar oleh suami yang lagi nyetir yang juga kebetulan menengok ke arah yang sama denganku. Suami langsung nyahut, "Ya bisalah Ma, tuh buktinya..." Ya, mereka masih bisa tetap hidup dengan segala keterbatasan sana sini. Asap knalpot kendaraan adalah wangi uang. How can they survive? Setiap hari mencari uang dengan cara yang sama, merasakan penat, hiruk pikuk, lelah pasti, stress apalagi. Tapi kebutuhan hidup terus memanggil membuat mereka bertahan ya akhirnya jadi survive.

Gila, dalam hatiku. Keras, keras betul hidup di sini.

Tapi memang inilah yang aku cari. Aku juga ingin mencicipi kerasnya hidup di Jakarta. Terdengar agak gila ??? hehehe... Saat suami ditugaskan di Jakarta, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan ikut pindah dengan beberapa alasan. Salah satu diantaranya adalah agar aku dan anak-anakku belajar bahwa ada kehidupan lain selain dari yang kami miliki di Sorowako. Sorowako adalah our comfort zone. Di sana kami tinggal di rumah dinas dengan sarana air, listrik, telpon lokal GRATIS. Biaya sewa rumah yang amat sangat murah. Semua seperti disulap, sim salabim... cring Anda mendapatkan rumah full furniture plus servis kalo ada kerusakan dalam rumah (kompor listrik, mesin cuci, mesin pengering pakaian de el el), halaman rumah nan luas, air bersih. Tidak ada keluhan tentang MACET, SAMPAH, BANJIR, PENGEMIS, PANAS.
UEenak tenan...

Tapi apakah itu baik untuk perkembangan anak-anakku? Baik karena mereka bisa hidup tenang, nyaman, aman, bahagia. Tapi menurutku mereka jadi kurang paham dengan yang namanya SURVIVAL, bagaimana bertahan dalam kerasnya hidup. Aku tidak mau anak-anakku kelak kaget bahwa hidup tidak seindah yang mereka bayangkan. Bahwa ternyata hidup adalah perjuangan, itu yang ingin aku tanamkan ke mereka. Aku berharap dengan merasakan hidup di Jakarta, aku dan suami dan anak-anakku sadar bahwa kami harus terus berbenah diri untuk bisa bertahan dalam kerasnya kehidupan saat ini dan di waktu yang akan datang.

Dulu Bapakku pernah menyampaikan bahwa, tidak ada yang bisa ia dan mamaku wariskan pada kami anak-anaknya kecuali pendidikan. Dengan harapan bahwa pendidikan yang kami enyam dapat menghidupi kami kelak. Dan untuk anak-anakku aku dan suami ingin berikan hal yang sama PLUS pengalaman hidup untuk SURVIVE. Apa yang kami alami dan  lihat langsung saat ini di Jakarta semoga bisa menjadi pengalaman hidup yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar